Kamis, 18 Agustus 2011

sudahkah kita menghargai sejarah?

Sejarah adalah sebuah bentuk kenangan masa lampau yang dituliskan sebagai pengingat kepada generasi penerusnya. Sejarah adalah kisah yang dapat menciptakan masa depan dengan lebih baik tanpa harus mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari. Sejarah adalah media transformasi visual berupa film, cerita, tulisan, dari jaman sebelum jaman ini untuk dikenang dan dilestarikan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, nilai sejarah. Bagaimana Dengan Indonesia?

Miris jika pemberitaan beberapa hari yang lalu. Itu terkait pemangkasan usulan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI alokasi dana hibah APBD DKI TA 2011 untuk YPDS HB Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, dari sebesar Rp950 juta menjadi Rp50 juta (mediaindonesia.com). Bahwa ternyata sejarah yang telah berhasil kita kumpulkan dalam media sastra tulisan tidak dihargai layak. Padahal dana itu dipakai dalam kurun waktu setahun untuk semua biaya operasional yang terkait.

Perpustakaan utamanya adalah media bacaan yang membantu masyarakat menemukan referensi yang dibutuhkan. Baik dalam bidang pekerjaannya, atau sebagai siswa, atau bahkan cuma ingin tahu tentang tulisan dalam buku-buku koleksi yang ada. Perpustakaan sendiri punya nilai pendidikan tinggi karena disanalah terdapat berbagai informasi yang tidak kita miliki dirumah. Bahkan media internet sekalipun hingga detik ini belum mampu menyamai sebuah perpustakaan. Akses yang cepat tidak menjamin sebuah internet memberikan informasi secara lengkap dan jelas.

Lalu mengapa perpustakaan HB Jassin yang heboh? Apa karena terletak di Jakarta? Bagaimana nasib perpustakaan lain. Secara singkat perpustakaan HB Jassin memiliki koleksi lengkap, menurut data yang dikumpulkan staf dokumentasi, Endo Senggono, sebanyak 16.816 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul naskah drama, 15.552 map kliping sastra yang pernah dimuat di majalah atau koran, dan 610 lembar foto pengarang. Selain itu, terdapat pula 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, 732 kaset rekaman suara, serta 15 kaset rekaman video. Jumlah itu terus bertambah karena PDS HB Jassin masih terus menambah koleksi dan masih banyak penulis yang mengirimkan karyanya ke pusat dokumentasi tersebut(dkj.or.id)

Dari sekian banyak buku dan lembaran sejarah yang ada perlunya kita menyadari bahwa sejarah adalah pilar utama dalam sebuah pembangunan di sektor apapun. Lihat saja di sektor sastra, anak cucu kita akan hilang identitasnya suatu hari nanti jika sejarah akan sastra lama tak mereka kenali lagi. Bagaimana menulis puisi, drama, novel, cerpen, dan akan sulit merangkai kata-kata yang lebih baik karena memang tak mengenal bagaimana penghias kata dalam sastra itu. Pemerintah DKI memang telah merevisi sumbangan keuangan pada yayasan HB Jassin tersebut. Agar nantinya dapat tetap bermanfaat seperti layak sedia kala kepada masyarakat.

Sejarah, terutama sastra menggambarkan situasi sosial dimasa itu, hubungan surat menyurat, komunikasi dan politik yang ada, karena itu pemeliharan sejarah harus lebih mendapat perhatian jika ingin bangsa ini semakin kokoh nantinya. Pribadi saya, walau tak secara langsung menerima manfaat akan sejarah, namun sangat membantu dalam hal keingin tahuan. Siapa yang tak tahu Chairil Anwar? Karyanya fenomenal selalu kita tahu itu, jika sejarah tak dipelihara lagi dan karya sastrawan hilang, jangan heran jika kita akhirnya bingung kebanggaan apa yang dapat kita pamerkan kepada bangsa lain saat sejarah saja dibiarkan tidak diperhatikan.
FacebookPrint